KONDISI PEREKONOMIAN DAN INDUSTRI Perekonomian global tahun 2023 tumbuh melambat terutama didorong oleh pemulihan ekonomi yang tidak sesuai dengan prakiraan awal, serta dampak dari tingginya suku bunga global. Reopening Tiongkok yang di bawah ekspektasi akibat krisis di sektor properti yang berlanjut turut mendorong perlambatan ekonomi global di tengah perekonomian AS yang membaik. Supply disruption terus membaik, mendorong normalisasi harga komoditas. Namun demikian, ketidakpastian yang cenderung meningkat terutama akibat berlanjutnya tensi geopolitik Rusia-Ukraina dan adanya eskalasi tensi geopolitik Israel-Hamas pada Q3 2023 yang menahan normalisasi harga komoditas. Dengan demikian, inflasi global cenderung tetap tinggi dan berpotensi turun lebih lambat. Inflasi yang tetap tinggi tersebut direspon oleh berbagai bank sentral dengan meningkatkan suku bunga acuannya. The Fed dan European Central Bank telah menaikkan suku bunga acuan masing-masing sebesar 100 bps dan 200 bps sepanjang tahun 2023. Kenaikan tersebut dimaksudkan untuk menurunkan tingkat inflasi ke target sebesar 2%. Kondisi ini mendorong suku bunga acuan global berada pada posisi higher for longer. Suku bunga yang tinggi tersebut berdampak pada menguatnya dollar index dan meningkatnya imbal hasil surat berharga negara maju sehingga aliran modal ke emerging markets, termasuk Indonesia cenderung tertahan. Di pasar domestik, pertumbuhan ekonomi tahun 2023 tetap robust terutama didukung oleh tetap kuatnya permintaan domestik di tengah turunnya kinerja sektor eksternal akibat perlambatan ekonomi global. Secara keseluruhan, pada tahun 2023 ekonomi domestik tumbuh 5,05% YoY. Inflasi domestik juga turun dengan cepat, saat ini sudah berada dalam kisaran target 3±1% sejak bulan Mei 2023. Penurunan inflasi domestik yang lebih cepat dari prakiraan, menjaga daya beli masyarakat sehingga pertumbuhan ekonomi tetap kuat. Dengan perkembangan tersebut, suku bunga acuan, BI 7-Day Reverse Repo Rate hanya naik sebesar 50 bps sepanjang tahun 2023. Kenaikan tersebut terutama merespon ancaman stabilitas nilai tukar Rupiah sebagai dampak rambatan ketidakpastian global dan memitigasi adanya imported inflation. Secara keseluruhan tahun 2023, tren suku bunga global yang higher for longer mendorong outflow di pasar saham, di tengah pasar SBN yang mencatatkan inflow nonresiden yang cukup besar di awal hingga pertengahan tahun 2023. Outflow di pasar saham turut didorong oleh turunnya Indeks Harga Saham Gabungan secara rata-rata pada tahun 2023 dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sementara itu, yield SBN 10 tahun secara rata-rata cenderung menurun sejalan dengan risiko perekonomian domestik yang turun di tengah masih adanya kenaikan suku bunga acuan. Sejalan dengan kondisi tersebut, ditambah ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi, secara rata-rata nilai tukar Rupiah cenderung mengalami depresiasi pada tahun 2023. Di industri perbankan, total aset perbankan nasional menyentuh Rp11.984 triliun pada Desember 2023, tumbuh 5,91% secara tahunan (year on year/yoy). Dana Pihak Ketiga (DPK) naik Rp317 triliun menjadi Rp8.611 triliun, meningkat 3,82% (yoy). Penyaluran kredit secara nasional tumbuh 10,37% (yoy) atau naik Rp681 triliun, menjadi Rp7.248 triliun. Hal ini didukung pulihnya aktivitas ekonomi masyarakat sejalan dengan pelonggaran pembatasan mobilitas yang disertai pemberian insentif oleh pemerintah dan regulator dalam mendorong pemulihan ekonomi nasional. Tingkat kesehatan perbankan juga tetap terjaga dengan baik. Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 27,65% pada Desember 2023, atau di atas ketentuan minimum BASEL III, yaitu 10%. Rasio likuiditas yang ditunjukkan oleh rasio Likuiditas terhadap DPK (AL/ DPK) tetap stabil, yakni sebesar 28,7%. Namun, perbankan menunjukan efisiensi yang sedikit menurun secara operasional. Hal ini tercermin dari rasio Biaya Operasional/Pendapatan Operasional (BO/PO) sebesar 78,94% atau lebih tinggi dibandingkan posisi akhir tahun 2022 yang mencapai 78,64%. Rasio kualitas pembiayaan tetap terjaga didukung dengan insentif restrukturisasi pembiayaan yang diberikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada masa pandemi COVID-19. Rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tercatat sebesar 2,19% (gross) atau 0,71% (net). LAPORAN DIREKSI LAPORAN TAHUNAN 2023 PT BANK SYARIAH INDONESIA Tbk 48 Ikhtisar Kinerja Analisis dan Pembahasan Manajemen Laporan Manajemen Profil Perusahaan
RkJQdWJsaXNoZXIy NTM2MDQ5