Laporan Tahunan 2021
Tingkat kesehatan perbankan juga tetap terjaga sejalan dengan efisiensi dalam mendukung keberlanjutan bisnis di masa pandemi. Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 25,67% pada Desember 2021, atau di atas ketentuan minimum BASEL III yaitu 10%. Di sisi lain, rasio likuiditas (AL/DPK) tetap stabil, yakni sebesar 35,12%. Sementara itu, rasio efisiensi perbankan tetap baik, tercermin dari rasio Biaya Operasional/Pendapatan Operasional (BO/PO) sebesar 83,42%, atau lebih rendah dibandingkan posisi akhir tahun 2020 yang mencapai 86,44%. Rasio kualitas pembiayaan tetap terjaga didukung oleh insentif restrukturisasi pembiayaan yang diberikan Otoritas JasaKeuangan (OJK) padamasa pandemi Covid-19. Rasio kredit bermasalah ( Non Performing Loan /NPL) tercatat sebesar 3,09% ( gross ). Kinerja industri perbankan yang positif pada 2021, tidak lepas dari dukungan perkembangan industri perbankan syariah nasional. Merger Bank Syariah Mandiri, Bank BNI Syariah, dan Bank BRI Syariah menjadi PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) pada Februari 2021 menjadi salah satu pendorong kinerja industri perbankan syariah. Konsolidasi ketiga bank syariah anak usaha BUMN tersebut menghasilkan bank syariah yang masuk ke jajaran 10 besar bank nasional. Merger tersebut juga mengubah lanskap industri perbankan syariah, di mana BSI menguasai 38% marketshare perbankan syariah nasional dengan aset sebesar Rp265,29 triliun pada akhir tahun 2021. Total aset perbankan syariah naik Rp85 triliun dan menyentuh level Rp694 triliun pada Desember 2021, atau tumbuh 13,94% (yoy). Penghimpunan dana juga mencatat kinerja positif, dimana DPK perbankan syariah naik Rp76 triliun ke level Rp549 triliun pada Oktober 2021, atau tumbuh 15,30% yoy sejalan dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap produk perbankan syariah didukung peningkatan infrastruktur dan layanan akses digitalisasi. Pangsa pasar DPK perbankan syariah terhadap DPK perbankan nasional tercatat menyentuh level 7,21%. Sementara dari sisi pembiayaan, penyaluran pembiayaan naik Rp36 triliun dan menyentuh level Rp422 triliun pada Desember 2021, atau tumbuh 6,9% yoy. Pangsa pasar pembiayaan perbankan syariah terhadap perbankan nasional tercatat sebesar 7,15%. Tingkat kesehatan perbankan syariah juga terjaga dengan baik di masa pandemi Covid-19. Rasio CAR tercatat sebesar 25,71%padaDesember 2021atau lebih tinggi dibandingkan CAR industri perbankan nasional. Namun demikian, rasio efisiensi perbankan syariah lebih baik dibandingkan nasional. Rasio Biaya Operasional/ Pendapatan Operasional (BOPO) tercatat sebesar 80,33% pada Oktober 2021, atau lebih rendah dibandingkan rasio BOPO industri perbankan nasional. Sementara itu, kualitas pembiayaan perbankan syariah juga menunjukkan kinerja yang positif. Tingkat rasio Non Performing Financing (NPF) gross membaik dari 3,2% di akhir 2020 menjadi 2,7% pada Desember 2021 atau lebih rendah dibandingkan industri perbankan nasional. Dukungan pemerintah melalui imbauan Kementerian BUMNsertameningkatnya kesadaranmasyarakat terhadap halal matter juga berkontribusi terhadap pertumbuhan bisnis perbankan syariah di tahun 2021. Sumber: OJK Oktober (2021) 195 PT BANK SYARIAH INDONESIA Tbk • Laporan Tahunan 2021 Analisis dan Pembahasan Manajemen
Made with FlippingBook
RkJQdWJsaXNoZXIy NTM2MDQ5