Laporan Tahunan 2022

187 LAPORAN TAHUNAN 2022 PT BANK SYARIAH INDONESIA Tbk Tata Kelola Perusahaan Penunjang Bisnis Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Laporan Keuangan ANALISIS PEREKONOMIAN GLOBAL Kondisi perekonomian tahun 2022 terus bergerak ke arah pemulihan dari dampak pandemi Covid-19. Perkembangan kasus Covid-19 semakin melandai, dengan tingkat kematian yang menurun seiring dengan meningkatnya vaksinasi. Indonesia mencapai tingkat vaksinasi 160,86 dosis secara kumulatif hingga 20 Desember (per 100 orang). Sedangkan Amerika Serikat mencatatkan angka 199,44, China 243,66, dan Filipina 146,74. Situasi Covid-19 yang semakin terkendali disusul dengan kebijakan pelonggaran mobilitas di berbagai negara. Per Desember 2022, beberapa negara sudah mencabut kewajiban stay at home dan membuka restriksi mobilitas internasional. Mayoritas negara, termasuk Indonesia, hanya menerapkan screening status vaksinasi untuk perjalanan internasional. Tiongkok menjadi negara yang paling terakhir dalam melonggarkan pembatasan mobilitasnya. Namun di saat yang sama, konflik Rusia-Ukraina menyebabkan supply chain disruption yang menyebabkan meningkatnya harga komoditas, terutama di sektor energi. Ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina yang dimulai sejak 24 Februari 2022 belum menemui kesepakatan damai setelah konflik yang telah berlangsung 10 bulan. Menurut laporan PBB, terdapat korban 6.826 jiwa dan 10.769 terluka per 18 Desember 2022. Menyikapi konflik tersebut, Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa memberikan sanksi ekonomi kepada Rusia. AS dan Uni Eropa membekukan aset keuangan Rusia di negara-negara tersebut, melarang transaksi dengan dolar AS, membekukan transaksi keuangan dengan lembaga keuangan Rusia, serta membekukan kerja sama perdagangan yang meliputi larangan ekspor teknologi dan impor energi. Rusia membalas sanksi tersebut dengan menutup jalur pipa gas Nordstream 1 yang selama ini memasok gas ke Eropa. Aksi tersebut menyebabkan negara-negara Eropa mengalami krisis energi, sehingga mendorong mereka untuk mencari sumber energi alternatif, yaitu batu bara. Permintaan yang tinggi menyebabkan harga batu bara melonjak dan mencatat rekor all time high di level US$457,8 per ton pada 5 September 2022. Selain komoditas energi, dampak dari konflik RusiaUkraina juga menyebabkan terganggunya distribusi dan rantai pasok perdagangan dunia. Akibatnya, pasokan barang tak mampu memenuhi permintaan di pasar yang sedang dalam proses pemulihan. Kondisi tersebut mendorong lonjakan inflasi sepanjang tahun 2022. Untuk menekan laju inflasi akibat disrupsi rantai pasok komoditas, berbagai Bank Sentral menyesuaikan kebijakan moneter suku bunga acuannya dengan kenaikan reference rate yang lebih agresif. Bank Sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve, merupakan salah satu yang paling agresif dengan meningkatkan suku bunga acuan sebesar 425 bps sepanjang tahun 2022. Kebijakan The Fed yang hawkish tersebut memicu outflows dari pasar negara berkembang akibat menguatnya nilai tukar dolar AS. Selain itu, langkah The Fed menaikkan suku bunga acuan guna meredam lonjakan inflasi di AS dikhawatirkan memperlambat pertumbuhan ekonomi AS dan berpotensi menyebabkan resesi. Namun demikian, dampak terhadap ekonomi Indonesia diperkirakan relatif mild seiring fundamental ekonomi yang solid. Potensi resesi ekonomi akibat agresivitas kenaikan suku bunga acuan di negara maju mendorong potensi gejolak di pasar keuangan global tahun 2022. Namun demikian, memasuki penghujung tahun 2022 volatilitas mulai mereda seiring turunnya inflasi di sejumlah negara. Hal tersebut juga tercermin dari nilai VIX Index yang semakin turun, sebagai isyarat pasar mulai mengarah stabil.

RkJQdWJsaXNoZXIy NTM2MDQ5