Laporan Tahunan 2022

188 LAPORAN TAHUNAN 2022 PT BANK SYARIAH INDONESIA Tbk Analisis dan Pembahasan Manajemen Laporan Manajemen Profil Perusahaan Ikhtisar Kinerja ANALISIS PEREKONOMIAN NASIONAL Pemulihan ekonomi domestik terus berlanjut di tengah dinamika pasar global dan domestik. Beberapa indikator ekonomi dan keuangan menunjukkan tren positif setelah kondisi pandemi Covid-19 membaik, seiring dengan tingkat vaksinasi Covid-19 selama 2022 yang memberikan hasil baik, dengan melandainya kasus harian Covid-19. Cakupan vaksinasi di Indonesia per Desember 2022 berada pada angka 86,93% (dosis pertama), 74,46% (dosis kedua), 29,17% (dosis ketiga), dan 5,04% (dosis keempat). Perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia semakin menurun sejak April 2022, dengan lonjakan tertinggi terakhir di Februari 2022. Pada penghujung tahun, yaitu di 30 Desember 2022, pemerintah pun mencabut Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Peningkatan tingkat vaksinasi yang telah mencapai target pemerintah (>70%) membolehkan mudik setelah 2 (dua) tahun dilarang. Pelonggaran tersebut meningkatkan indeks mobilitas masyarakat dengan estimasi jumlah pemudik sebanyak 30% dari total populasi Indonesia. Kebijakan itu sejalan dengan terkendalinya kondisi pandemi Covid-19 serta cakupan vaksinasi dua dosis yang telah mencapai target. Antusiasme mudik memberikan dampak positif terhadap perputaran roda ekonomi nasional dan daerah. Bank Indonesia mencatat realisasi penarikan uang tunai sepanjang momentum Ramadhan dan libur Idul Fitri meningkat 16,6% dibandingkan realisasi tahun 2021 (YoY), dari sebesar Rp154,5 triliun menjadi Rp180,2 triliun. Pertumbuhan tersebut tetap lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan sebelum pandemi, yaitu Mei 2019 yang sebesar 9,21% (YoY). Selain itu, nominal transaksi tertinggi yang dilakukan melalui BI-FAST terjadi pada 7 (tujuh) hari sebelum Idul Fitri sebesar Rp5,93 triliun dengan volume sebanyak 1,28 juta transaksi. Aktivitas mudik mendorong perputaran uang meningkat sejalan dengan adanya pemberian Tunjangan Hari Raya (THR) yang berdampak terhadap peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat, seperti kunjungan destinasi wisata. Aktivitas mudik juga memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah khususnya dari sektor akomodasi. Tingkat keterisian hotel juga mengalami peningkatan signifikan di tahun 2022, dari 43% di tahun 2021 menjadi 82% di masa lebaran tahun 2022. Tahun 2022 juga diwarnai dengan penyesuaian tarif PPN menjadi 11% pada awal April 2022. Namun demikian, ada beberapa daftar barang dan jasa yang bebas dari aturan tersebut guna menjaga stabilitas pemulihan ekonomi di tengah pandemi Covid-19. Gangguan supply chain global menyebabkan windfall profit dari kenaikan harga komoditas ekspor utama Indonesia yaitu minyak sawit dan batu bara. Hal ini mendorong peningkatan nilai ekspor Indonesia, sehingga neraca perdagangan mencapai surplus US$50,6 miliar dari Januari hingga November 2022. Tetapi, di saat yang sama, sektor usaha yang memiliki orientasi ekspor serta penggunaan bahan baku impor tinggi (seperti industri tekstil, alas kaki, pengolahan) berpotensi terdampak signifikan oleh perlambatan perekonomian dunia. Tahun 2022 ikut memberikan tantangan pada nilai tukar rupiah yang melemah 9,23% terhadap dolar AS, sehingga menjadi Rp15.568 per dolar AS pada akhir tahun 2022, dari Rp14.253 di akhir 2021. Sedangkan Indeks Harga Sahan Gabungan (IHSG) pada posisi akhir tahun menguat 4,1%, dari 6.581 ke level 6.851. Fluktuasi terbesar IHSG terjadi pada triwulan dua dan tiga, dengan harga tertinggi di level 7.318 pada 13 September 2022, yang saat itu didorong oleh kenaikan sektor transportasi (2,24%). Tekanan perekonomian juga datang dari 2 (dua) kali kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), yaitu pada April dan September 2022. Penyesuaian harga tersebut dilakukan untuk menjaga anggaran subsidi BBM di dalam keseimbangan APBN. Pemerintah menyiapkan 3 (tiga) Bantuan Sosial (Bansos) untuk pengalihan subsidi BBM pada September 2022. Kebijakan tersebut berdampak terhadap peningkatan inflasi domestik, bersamaan dengan gangguan eksternal akibat supply chain disruption dan normalisasi kebijakan moneter. Inflasi yang sebesar 2,18% di Januari 2022, menjadi 5,51% pada Desember 2022. Dunia usaha juga terimbas. Sektor yang langsung merasakan dampaknya adalah transportasi, kemudian dilanjutkan dengan industri lainnya yang mengalami kenaikan biaya bahan baku. Untuk meredam inflasi dan menyesuaikan dengan kondisi perekonomian global, Bank Indonesia selama 2022 telah menaikkan suku bunga acuan BI Rate sebanyak 6 (enam) kali sejak Agustus 2022 dengan total kenaikan 200 bps hingga Desember 2022. Per Desember 2022, suku bunga acuan berada pada level 5,50% dengan inflasi sebesar 5,51%.

RkJQdWJsaXNoZXIy NTM2MDQ5