206 LAPORAN TAHUNAN 2022 PT BANK SYARIAH INDONESIA Tbk Analisis dan Pembahasan Manajemen Laporan Manajemen Profil Perusahaan Ikhtisar Kinerja Kas Posisi kas Bank pada tahun 2022 mencapai Rp4,95 triliun. Dibandingkan dengan posisi tahun 2021, terdapat kenaikan sebesar Rp831,57 miliar. Peningkatan kas terbesar terdapat pada mata uang rupiah dengan peningkatan sebesar Rp777,19 miliar. Kas dalam valuta asing juga mengalami peningkatan sebesar Rp54,37 miliar. Giro dan Penempatan pada Bank Indonesia Jumlah giro dan penempatan pada Bank Indonesia pada tahun 2022 tercatat sebesar Rp31,78 triliun, naik Rp11,21 triliun dari posisi tahun 2021 sebesar Rp20,56 triliun. Peningkatan itu terjadi pada Giro Bank Indonesia sebesar Rp8,50 triliun dan deposito berjangka dalam valuta asing sebesar Rp3,32 triliun. Giro dan Penempatan pada Bank Lain-Neto Pada tahun 2022, giro dan penempatan pada bank lain bersih tercatat sebesar Rp2,48 triliun, meningkat 34,82% atau Rp641 miliar dari posisi tahun 2021 sebesar Rp1,84 triliun. Peningkatan terutama pada penempatan SiPA (Sertifikat Pengelolaan Dana Berdasarkan Prinsip Syariah Antarbank) sebesar Rp934 miliar dan SIMA (Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank) sebesar Rp555 miliar. Sedangkan untuk penempatan pada giro bank lain turun sebesar Rp856 miliar. Investasi pada Surat Berharga-Neto BSI membukukan investasi surat berharga-neto pada tahun 2022 sebesar Rp57,84 triliun, turun 14,41% atau Rp9,74 triliun dari tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp67,58 triliun. Penurunan terutama berasal dari Sukuk BI yang jatuh tempo sebesar Rp18,33 triliun. Di sisi lain, investasi pada sukuk negara dan korporasi mengalami peningkatan sebesar Rp8,59 triliun. Tagihan Akseptasi-Neto Tagihan akseptasi-neto yang dimiliki oleh Bank Syariah Indonesia pada tahun 2022 sebesar Rp476,59 miliar, naik Rp316,71 miliar atau 198,09% dibandingkan tahun 2021 yang sebesar Rp159,88 miliar. Peningkatan terutama pada LC Impor SKBDN sebesar Rp312,5 miliar. Piutang-Neto Pada tahun 2022, Bank Syariah Indonesia mencatat nilai piutang-neto mencapai Rp120,70 triliun, meningkat 22,74% atau Rp22,36 triliun bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yaitu senilai Rp98,34 triliun. Peningkatan terbesar terdapat pada penyaluran piutang pada sektor ekonomi konsumer sebesar Rp19,93 triliun dan sektor ekonomi perdagangan sebesar Rp2,30 triliun. Pinjaman Qardh-Neto Pada tahun 2022, pinjaman qardh-neto mengalami penurunan sebesar 2,36% atau Rp214,39 miliar, dari Rp9,08 triliun pada tahun 2021 menjadi Rp8,87 triliun. Pembiayaan Mudharabah-Neto Pembiayaan mudharabah-neto Bank pada 2022 tercatat sebesar Rp1 triliun, turun 37,08% atau Rp590,36 miliar dibandingkan tahun 2021 yang sebesar Rp1,59 triliun. Penurunan terutama pada sektor ekonomi perdagangan sebesar Rp346,14 miliar, sektor jasa usaha dan lainnya Rp245,82 miliar. Pembiayaan Musyarakah-Neto Total pembiayaan musyarakah-neto hingga akhir 2022 mencapai Rp66,45 triliun, meningkat 23,28% atau Rp12,55 triliun dibandingkan tahun 2021 yang sebesar Rp53,9 triliun. Adapun peningkatan penyaluran pembiayaan musyarakah dari sektor ekonomi konsumer sebesar Rp3,95 triliun, konstruksi Rp1,87 triliun, pertanian Rp1,63 triliun, jasa usaha Rp1,5 triliun dan sektor lainnya Rp1,34 triliun. Aset yang Diperoleh untuk Ijarah-Neto Aset Bank yang diperoleh untuk ijarah-neto tercatat Rp1,48 triliun. Dibandingkan tahun 2021 yang sebesar Rp901,57 miliar, terjadi peningkatan sebesar Rp583 miliar atau 64,67%. Peningkatan aset ijarah terutama dari sektor mesin dan instalasi sebesar Rp397,71 miliar. Aset Tetap dan Aset Hak Guna-Neto Total aset tetap dan aset hak guna-neto pada tahun 2022 sebesar Rp5,65 triliun, meningkat 39,42% atau Rp1,60 triliun dibandingkan tahun 2021 yang sebesarRp4,06 triliun. Peningkatan aset tetap bersih sebesar Rp1,67 triliun menjadi faktor utama peningkatan aset tetap dan aset hak guna. Aset Pajak Tangguhan Aset pajak tangguhan pada tahun 2022 tercatat Rp1,68 triliun, lebih tinggi Rp229,78 miliar atau 15,90% dibandingkan tahun 2021 yang Rp1,45 triliun. Peningkatan aset pajak tangguhan terutama dari penambahan CKPN aset produktif yang terjadi selama 2022. Aset Lain-lain-Neto Secara kumulatif, jumlah aset lain-lain-neto pada tahun 2022 sebesar Rp2,37 triliun, lebih tinggi Rp659,03 miliar atau 38,58% dibandingkan tahun 2021 yang sebesar Rp1,71 triliun. Peningkatan terbesar terdapat pada biaya dibayar di muka Rp276,07 miliar dan piutang pendapatan surat berharga Rp245,42 miliar.
RkJQdWJsaXNoZXIy NTM2MDQ5