Laporan Tahunan 2023

Likuiditas perekonomian domestik secara makro dinilai masih memadai. Secara rata-rata, uang beredar masih tumbuh positif. Rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) juga terjaga tinggi. Likuiditas yang memadai juga turut didukung oleh net ekspansi Pemerintah melalui APBN mulai akhir Q3 2023 hingga akhir tahun, di tengah penyerapan likuiditas melalui lelang surat berharga yang memberikan efek kontraksi pada likuiditas. Dengan perkembangan tersebut, berbagai kebijakan ditempuh oleh otoritas terkait untuk menjaga stabilitas nilai Rupiah dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia dalam Tim Pengendalian Inflasi dan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan di berbagai daerah terus dilakukan untuk menjaga stabilitas inflasi. Selain itu, sejumlah kebijakan seperti penerbitan Peraturan Pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA), dan penerbitan instrumen baru seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI) juga turut diluncurkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan mendorong pendalaman pasar keuangan. Selain itu, reformasi struktural seperti program hilirisasi juga terus digalakkan oleh pemerintah untuk memperkuat fundamental perekonomian domestik dan mendorong perekonomian domestik tetap berdaya tahan. Pertumbuhan ekonomi juga terus didorong dengan berbagai kebijakan, antara lain melalui penguatan implementasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), pelonggaran ketentuan uang muka kredit/pembiayaan, dan pelonggaran rasio Loan/ Financing to Value yang berpotensi turut mendorong penyaluran kredit/pembiayaan perbankan. Selain itu, pada September 2023 juga dimulai bursa karbon di Indonesia, mendorong kebijakan Indonesia ke arah yang lebih berkelanjutan. ANALISIS INDUSTRI PERBANKAN NASIONAL DAN SYARIAH Kinerja industri perbankan sepanjang tahun 2023 menunjukkan resiliensi, ditandai dengan bejalannya fungsi intermediasi yang tetap baik dan risiko kredit yang terkendali di masa pasca pandemi COVID-19. Total Aset perbankan menyentuh Rp11.984 triliun pada Desember 2023, atau tumbuh 5,91% YoY. Sementara itu, total Dana Pihak Ketiga (DPK) naik Rp317 triliun, atau tumbuh 3,82% YoY sejalan dengan preferensi masyarakat yang menyimpan asetnya pada produk perbankan akibat ketidakpastian kondisi pandemi di Indonesia. Penyaluran kredit tetap tumbuh, tercermin dari kenaikan penyaluran kredit nasional sebesar Rp681 triliun atau tumbuh 10,37% YoY. Kembali meningkatnya penyaluran kredit tersebut didukung pulihnya aktivitas ekonomi masyarakat sejalan dengan pelonggaran pembatasan mobilitas yang disertai pemberian insentif oleh pemerintah dan regulator lain seperti Bank Indonesia dalam mendorong percepatan pemulihan ekonomi nasional. Di sisi lain, tingkat kesehatan perbankan tetap terjaga sejalan dengan efisiensi dalam mendukung keberlanjutan bisnis di masa pandemi. Rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) berada di level 27,6% pada Desember 2023, atau di atas ketentuan minimum BASEL III yaitu 10%. Di sisi lain, rasio likuiditas (AL/ DPK) tetap stabil, yakni sebesar 28,7%. Sementara itu, rasio efisiensi perbankan tetap baik tercermin dari rasio Biaya Operasional/Pendapatan Operasional (BO/PO) sebesar 79,94% (<80%), namun lebih tinggi lebih tinggi dibandingkan posisi akhir tahun 2022 yang mencapai 78,64%. Rasio kualitas pembiayaan tetap terjaga didukung dengan insentif restrukturisasi pembiayaan yang diberikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada masa pandemi Covid-19. Rasio kredit bermasalah (NonPerforming Loan/NPL) tercatat sebesar 2,2% (gross) atau 0,7% (net). Kinerja industri perbankan yang positif sepanjang tahun 2023, tidak lepas dari dukungan perkembangan industri perbankan syariah nasional. Merger Bank Syariah Mandiri, BNI Syariah dan BRISyariah menjadi PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) pada Februari 2021 menjadi salah satu pendorong kinerja industri perbankan Syariah. Konsolidasi ketiga bank syariah anak usaha BUMN tersebut menghasilkan bank syariah yang masuk ke jajaran 10 besar bank nasional. Merger tersebut juga mengubah landscape industri perbankan syariah, di mana BSI menguasai 39,6% pangsa pasar perbankan syariah nasional dengan aset sebesar Rp353,62 triliun sampai dengan Desember 2023. TINJAUAN EKONOMI DAN INDUSTRI LAPORAN TAHUNAN 2023 PT BANK SYARIAH INDONESIA Tbk 154 Ikhtisar Kinerja Analisis dan Pembahasan Manajemen Laporan Manajemen Profil Perusahaan

RkJQdWJsaXNoZXIy NTM2MDQ5