Laporan Tahunan 2024

Secara keseluruhan, BSI menunjukkan kinerja yang sangat baik di tahun 2024, dengan pencapaian yang melampaui target di hampir semua aspek penting, termasuk aset, pembiayaan, DPK, dan laba bersih. Keberhasilan ini mencerminkan strategi BSI yang solid dalam mengelola pertumbuhan yang berkelanjutan, menjaga kualitas aset, serta meningkatkan efisiensi operasional. Dengan pencapaian yang sangat positif ini, BSI optimis akan terus memperkuat posisinya di industri perbankan syariah dan menghadapi tantangan di tahun 2025. Tinjauan Perekonomian Analisis Perekonomian Global International Monetary Fund (IMF), dalam World Economic Outlook (WEO) Januari 2025, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global tahun 2024 sebesar 3,2% year-on-year (yoy), sedikit melambat dibandingkan dengan pertumbuhan tahun sebelumnya yang tercatat 3,3% yoy. Perlambatan pertumbuhan ekonomi global tersebut terutama disebabkan oleh pemulihan ekonomi di beberapa negara, terutama di Kawasan Euro Area (EA) dan Asia, yang tidak sesuai dengan prakiraan awal. Ekonomi Amerika Serikat (AS) tumbuh solid, terutama ditopang oleh permintaan domestik yang kuat, sejalan dengan meredanya tekanan inflasi. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi di EA cenderung tertahan meskipun inflasi dalam tren menurun. Tertahannya pertumbuhan ekonomi EA terutama dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi Jerman yang rendah akibat pelemahan sektor manufaktur dan ekspor, meski konsumsi mulai berada dalam trajektori pemulihan. Sejalan dengan EA, pemulihan ekonomi Tiongkok juga terhambat akibat krisis properti yang berkepanjangan, meski sejumlah kebijakan ekspansif telah diimplementasikan oleh Pemerintah Tiongkok. Peningkatan net ekspor Tiongkok di akhir tahun belum cukup untuk mengimbangi lemahnya konsumsi dan keyakinan konsumen. India juga tumbuh lebih rendah dibandingkan ekspektasi seiring penurunan aktivitas industrinya. Selain itu, Jepang juga mengalami perlambatan akibat disrupsi pasokan yang bersifat temporer. Pada 2024, tensi geopolitik Israel-Palestina tereskalasi menjadi konflik beberapa negara di kawasan Timur Tengah, turut menahan pertumbuhan ekonomi global lebih lanjut. Sebagai kawasan penghasil minyak, konflik tersebut memicu volatilitas di pasar komoditas, terutama minyak mentah. Merespon hal tersebut, harga minyak mentah Brent sempat meningkat pada Oktober 2024 sebagai dampak shock akibat sentimen eskalasi tensi geopolitik. Namun demikian, secara umum harga komoditas sepanjang tahun 2024 terus mengalami penurunan, sejalan dengan suplai yang memadai di tengah permintaan yang relatif masih tertahan. Meredanya disrupsi suplai akibat menurunnya intensitas konflik Rusia-Ukraina juga turut mendukung terjaganya harga komoditas Sejalan dengan perkembangan tersebut, tekanan inflasi global mulai menurun. Inflasi dalam tren menurun secara gradual, termasuk di negara-negara maju seperti AS dan EA. Meski demikian, risiko inflasi masih perlu diwaspadai, terindikasi dari kenaikan inflasi yang mulai terjadi lagi pada Triwulan IV 2024. Tren penurunan inflasi tersebut direspons bank sentral di berbagai negara dengan menurunkan suku bunga acuannya. European Central Bank (ECB) mulai menurunkan suku bunganya pada Juni 2024, diikuti oleh the Fed yang mulai menurunkan suku bunga acuan pada September 2024. Fed fund rate (FFR) telah turun sebesar 100 bps sepanjang 2024. ANALISIS DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN ATAS KINERJA BANK PT Bank Syariah Indonesia Tbk Laporan Tahunan 2024 160

RkJQdWJsaXNoZXIy NTM2MDQ5