Laporan Tahunan 2024

Penurunan suku bunga tersebut pada awalnya mendorong aliran modal masuk ke Emerging Markets (EM). Namun demikian, volatilitas dan ketidakpastian di pasar keuangan global kembali meningkat menjelang pelaksanaan pemilihan umum di AS, dimana Trump memenangkan pemilihan. Kondisi tersebut mendorong kekhawatiran pasar terkait kebijakan proteksionisme di AS yang dapat memicu kembali perang dagang dan peningkatan tarif impor, sehingga berpotensi kembali meningkatkan tingkat inflasi. Ini berdampak pada ekspektasi penurunan FFR yang lebih gradual, mendorong capital reversal, dan kembali melemahkan nilai tukar beberapa negara. Di sisi lain, ketidakpastian yang ditimbulkan akibat eskalasi tensi geopolitik dan berbagai peristiwa lainnya meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven, terutama emas. Hal tersebut berdampak pada kenaikan harga emas yang cukup signifikan sepanjang 2024. Sumber: World Economic Outlook International Monetary Fund, Januari 2025, Bloomberg Analisis Perekonomian Nasional Di tengah tekanan eskalasi tensi geopolitik ekonomi global, perekonomian Indonesia menunjukan resiliensi yang tumbuh stabil pada tahun 2024, sebesar 5,03% yoy. Pertumbuhan tersebut utamanya didorong oleh permintaan domestik yang tetap kuat di tengah kontraksi net ekspor, seiring dengan penurunan harga komoditas dan perlambatan ekonomi global. Meskipun pertumbuhan ekonomi domestik juga sedikit tertahan akibat turunnya permintaan eksternal, yang tercermin dari kontraksi Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur sejak awal Triwulan III-2024 hingga November 2024. Namun, keyakinan konsumen dan pertumbuhan penjualan eceran masih kuat, sejalan dengan tetap resiliennya permintaan domestik. Terjaganya permintaan domestik juga didukung oleh inflasi yang rendah dan terkendali selama tahun 2024, sehingga menopang daya beli masyarakat. Penurunan inflasi pada tahun 2024 terutama didorong oleh meredanya dampak El Nino, sehingga suplai pangan cukup terkendali. Selain itu, penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) yang sejalan dengan turunnya harga minyak dunia, serta kebijakan penurunan harga tiket pesawat dan kereta api, juga turut mendorong turunnya inflasi. Di sisi lain, naiknya harga emas global mendorong kenaikan harga emas dan perhiasan domestik sehingga mendorong inflasi inti. Investasi domestik juga turut menopang pertumbuhan ekonomi. Disiplin fiskal yang tetap dijaga di tengah program-program tambahan di Pemerintahan baru turut menopang sentimen positif untuk menarik investasi. Selain itu, meskipun kinerja sektor eksternal relatif tertahan, ketahanan eksternal tetap terjaga, terlihat dari neraca perdagangan yang mencatatkan surplus sepanjang tahun dan cadangan devisa yang memadai. Inflasi yang rendah diiringi dengan meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan mendorong volatilitas nilai tukar Rupiah. Kondisi ini membuat kebijakan moneter domestik tetap berfokus pada pro-stability. Bank Indonesia (BI) merespon dengan menaikkan BI rate sebesar 25 bps pada April 2024 menjadi 6,25%. Seiring dengan meredanya tekanan dari global dan menguatnya nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia menurunkan BI rate pada September 2024 sebesar 25 bps menjadi 6,00%. Namun, volatilitas nilai tukar Rupiah kembali meningkat akibat ketidakpastian geopolitik dan perekonomian global akibat perkembangan politik di AS, sehingga fokus kebijakan moneter tetap diarahkan untuk memperkuat stabilitas nilai tukar Rupiah. BI rate dipertahankan pada level 6,00% hingga akhir tahun. Selain itu, BI juga tetap melanjutkan penerapan kebijakan triple intervention untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, termasuk melalui optimalisasi instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI) untuk menarik inflow di pasar sekunder. Di sisi lain, nonresiden (investor asing) masih mencatatkan inflow di pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan saham. Outflow terjadi di pasar SBN pada Triwulan I-2024 dan di pasar saham pada Triwulan II-2024, sementara pada Triwulan III-2024, kedua pasar mengalami inflow yang konsisten. Namun demikian, baik di pasar saham maupun SBN, kecenderungan outflow kembali terjadi di Triwulan IV-2024, sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian global akibat kondisi politik pasca-pemilu di AS. Sumber: - Berita Resmi Statistik, Badan Pusat Statistik, Februari 2025 - Tinjauan Kebijakan Moneter Triwulan IV, Bank Indonesia, Februari 2025 Analisis Industri Perbankan Nasional Dinamika perubahan kebijakan moneter sepanjang tahun 2024 turut mempengaruhi pertumbuhan perbankan nasional. Di tengah kebijakan moneter yang tetap pro-stability dengan kenaikan BI Rate sebesar 25 bps pada April 2024, kinerja industri perbankan nasional tetap resilien. Kondisi tersebut ditopang oleh kebijakan makroprudensial yang pro-growth dan kinerja yang terjaga dari para pelaku usaha di tengah ketidakpastian. Stabilitas sektor perbankan nasional tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi global dan domestik sepanjang tahun 2024. Kinerja intermediasi perbankan terus mencatat pertumbuhan positif dengan risiko yang terkendali. Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan tercatat tumbuh 4,49% yoy menjadi Rp8.998 triliun, dengan giro tumbuh 3,34% yoy, tabungan tumbuh 6,76% yoy, dan deposito tumbuh 3,52% yoy. Likuiditas perbankan tetap memadai, tercermin dari rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) sebesar 112,87% dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 25,59%, jauh di atas threshold yang ditetapkan. Selain itu, Liquidity Coverage Ratio (LCR) tercatat 213,23%, mengindikasikan ketahanan likuiditas yang baik. Ketersediaan likuiditas yang memadai tersebut mendukung pertumbuhan kredit/ PT Bank Syariah Indonesia Tbk Laporan Tahunan 2024 161

RkJQdWJsaXNoZXIy NTM2MDQ5