Laporan Tahunan 2021

Total tambahan modal disetor yang timbul dari akuisisi terbalik senilai Rp6.370.013 juta merupakan penjumlahan antara selisih imbalan neto yang secara efektif dialihkan dengan nilai buku neto BNIS dan BRIS, ditambah dengan penyesuaian untuk mencerminkan modal Bank menurut hukum pada tanggal 1 Februari 2021. INFORMASI KELANGSUNGAN USAHA Hal-hal yang Berpotensi Berpengaruh Signifikan terhadap Kelangsungan Usaha Pada tahun 2021, kasus positif Covid-19 di Tanah Air yang mulai menurun mendorong peningkatan mobilitas masyarakat sehingga memberikan sinyal positif bagi perekonomian nasional. Membaiknya perekonomian tersebut ikut mendorong perbaikan kinerja perbankan nasional, yang ditandai dengan tumbuhnya penyaluran kredit. Kendati demikian, pandemi Covid-19 masih terus harus diwaspadai sehubungan dengan munculnya varian baru, seperti Omicron. Sejak awal tahun 2022, virus tersebut mulai menjangkit banyak orang, sehingga kasus positif Covid-19 kembali meningkat. Dalam menyusun strategi usaha, BSI telah mempertimbangkan beragam potensi risiko, termasuk kemungkinan masih adanya dampak Covid-19. Karena itu, Bank meyakini mampu menjaga kelangsungan usaha, mengingat Bank mampu melewati masa pandemi dengan sejumlah pencapaian kinerja yang sangat baik. Pencapaian itu, antara lain ditunjukkan melalui peningkatan aset, dana pihak ketiga (DPK), tabungan, pembiayaan, laba dan lainnya. Dengan demikian, BSI tidak memiliki hal-hal yang berpotensi berpengaruh signifikan terhadap kelangsungan usaha, karena mitigasinya telah disiapkan sejak awal. Asesmen Manajemen atas Masalah tersebut Manajemen BSI senantiasa melakukan evaluasi dan penilaian atas kemampuan Bank untuk melanjutkan kelangsungan usahanya. Meskipun pada tahun 2021 secara umum semua kegiatan usaha dihadapkan pada tantangan pandemi Covid-19 dan proses integrasi pasca merger, BSI berkeyakinan memiliki sumber daya dan menerapkan strategi yang tepat untuk melanjutkan usahanya di masa mendatang. Optimisme tersebut juga didukung oleh kekuatan Bank di mana posisi BSI sebagai bank dengan aset terbesar ketujuh secara nasional, 1.365 jumlah jaringan outlet , lebih dari 19.000 pegawai dan jumlah nasabah di atas 15 juta serta fokus strategi yang telah dicanangkan untuk tahun 2022, yang mencakup: 1. Layanan keuangan terintegrasi 2. Digital: Superapps & Islamic Ecosystem 3. Penguatan Fundamental: IT&Digital, RiskManagement, Human Capital 4. Peningkatan Kapabilitas Wholesale Transaction dan Kolaborasi dengan Retail Asesmen dilakukan dengan mengacu pada berbagai faktor antara lain analisis kekuatan kondisi keuangan maupun non- keuangan serta pencapaian kinerja dan histori kinerja Bank. Berdasarkan hasil asesmen, Manajemen BSI tidak melihat adanya ketidakpastian material yang dapat menimbulkan keraguan yang signifikan terhadap kemampuan Bank untuk melanjutkan usahanya, terlebih BSI merupakan gabungan dari 3 (tiga) bank legacy yaitu Bank BRI Syariah, Bank BNI Syariah dan Bank Syariah Mandiri. Asumsi yang Digunakan dalamMelakukan Asesmen Asumsi yang mendasari manajemen dalam meyakini bahwa tidak terdapat hal-hal yang berpotensi berpengaruh signifikan terhadap kelangsungan usaha, antara lain: 1. Kondisi perekonomian global, nasional dan industri perbankan yang mulai beranjak pulih dari krisis akibat Covid-19. 2. Posisi Bank sebagai bank syariah terbesar di Indonesia dengan layanan keuangan terintegrasi, sehingga peluang berkembangnya menjadi sangat besar. 3. Penerapan Good Corporate Governace (GCG). 4. Kekuatan permodalan BSI. 5. Evaluasi kinerja BSI yang dilakukan secara periodik. 6. Stress test yang dilakukan BSI secara periodik dalam menghadapi beberapa skenario. 249 PT BANK SYARIAH INDONESIA Tbk • Laporan Tahunan 2021 Analisis dan Pembahasan Manajemen

RkJQdWJsaXNoZXIy NTM2MDQ5