Laporan Tahunan 2022

Tata Kelola Perusahaan Penunjang Bisnis Tanggung Jawab Sosial Perusahaan Laporan Keuangan Perang tersebut menimbulkan gangguan pada rantai pasok global, sehingga melambungkan harga komoditas. Kondisi ini meningkatkan risiko di perbankan, terutama terhadap nasabah yang memiliki bisnis di sektor yang memiliki exposure terhadap aktivitas ekspor-impor. Lonjakan inflasi akibat tekanan kondisi geopolitik global itu membuat terjadinya perubahan pada kebijakan moneter di beberapa negara. Di Indonesia misalnya, sebagai respons terhadap situasi yang berkembang, Bank Indonesia menetapkan kebijakan menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya di Agustus 2022, yaitu sebesar 25 bps, sehingga menjadi 3,75%. Keputusan ini dianggap sebagai langkah preemptive serta forward looking untuk memitigasi risiko peningkatan inflasi dan ekspansi inflasi. Kenaikan suku bunga acuan ini terus berlanjut hingga Desember 2022 menjadi 5,50%. Tren kenaikan suku bunga acuan menimbulkan tambahan pada biaya perolehan dana (cost of fund) perbankan serta mengetatnya likuiditas di pasar. Namun, pulihnya konsumsi domestik masih menjadi pendorong pertumbuhan bisnis perbankan, sehingga ekspansi pembiayaan tetap tumbuh positif. Dengan kondisi tersebut, Bank melakukan evaluasi dan penguatan perangkat manajemen risiko untuk menjaga kualitas bisnis serta tingkat kesehatan bank. Bank cenderung lebih selektif dan menetapkan sektor fokus untuk penyaluran pembiayaan serta mengoptimalkan ekosistem dan kolaborasi dengan stakeholder lainnya. Di sisi lain, Bank juga berupaya untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan efisiensi di tengah tren kenaikan cost of fund. Dalam memitigasi kebijakan regulator dan menjaga pertumbuhan yang berkelanjutan, khususnya mengoptimalkan profitabilitas Net Imbalan (NI), Bank melakukan beberapa strategi. Di antaranya, yield enhancement melalui peningkatan Financing to Deposit Ratio (FDR), shifting portfolio to high yield and prudent financing, adjust financing price, dan re-invest treasury asset to high yield. Selain itu, Bank juga melakukan strategi manage cost of fund melalui fokus pertumbuhan dana murah khususnya tabungan, optimalisasi transactional banking, shifting deposito dari wholesale ke ritel, dan mengurangi konsentrasi deposan inti. PROSPEK USAHA 2023 Pada tahun 2023, indikator makroekonomi diprediksi cukup menantang dengan adanya potensi resesi global yang memicu kenaikan suku bunga. Potensi adanya resesi tersebut, antara lain disampaikan oleh Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/ IMF) serta Nota Keuangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran 2023. Potensi krisis tersebut merupakan tantangan bagi BSI untuk tetap tumbuh positif dan mampu memberikan solusi kepada nasabah/masyarakat dengan menjadi mitra finansial, sosial, dan spiritual. Dengan potensi pasar yang luas dan kapabilitas dimiliki, BSI senantiasa berusaha untuk menghadirkan solusi keuangan syariah yang modern, lengkap dan universal kepada nasabah. BSI telah memiliki performa yang teruji di tahun 2022 dengan tercapainya berbagai indikator keuangan dan aksi korporasi. Karena itu, Bank memiliki peluang untuk terus tumbuh dengan melihat berbagai peluang, antara lain: 1. Preferensi masyarakat yang kuat untuk perbankan syariah mendorong pertumbuhan yang positif, terutama pertumbuhan pada sektor industri halal. 2. Optimalisasi potensi dan peluang pengembangan industri pada ekosistem Syariah baik di tingkat global maupun nasional terus dilakukan seiring meningkatnya halal awareness. 3. Positioning BSI di industri perbankan Syariah yang kuat. 4. Dengan posisi sebagai Bank syariah terbesar, BSI berpotensi untuk meningkatkan market share perbankan syariah di industri perbankan nasional. 5. Dalam rangka mewujudkan misi BSI untuk memberikan akses solusi keuangan syariah di Indonesia dan melayani lebih dari 40 juta nasabah, maka BSI akan menjadi Sharia Integrated Financial Services. 6. 6. BSI memiliki likuiditas yang relatif baik dan longgar. Hal ini tercermin dari posisi Financing to Deposit Ratio (FDR) pada level 79,37% pada bulan Desember 2022. 7. BSI senantiasa memperkuat sinergi dengan Grup Usaha Bank Induk, dimana hal tersebut telah berjalan saat ini dan akan tetap dilanjutkan dalam rangka menjaga keberlangsungan operasional BSI. 57 LAPORAN TAHUNAN 2022 PT BANK SYARIAH INDONESIA Tbk

RkJQdWJsaXNoZXIy NTM2MDQ5